Tags

, , ,

Tiba-tiba pengen nulis… Mungkin ini namanya writer’s urge kali ya hahaha. Ceileh udah berasa penulis novel 10 juta kopi aja udah pake istilah-istilah. Sebenernya ini semua karena pelajaran PAI (yang malah isinya belajar menjadi penulis) yang bilang kalo menulis itu bisa jadi kaya bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Hmmmm setuju, sepanjang yang ditulis emang bermutu (pengalaman jadi korban hoax). Okeh jadi mau nulis apa…. nggak perlu mikir berat-berat karena topik yang kubawakan paling seputar Mr. Children (lagi) (ampuni) hahahahaha 😀

Tapi kali ini lebih sedikit berbobot, berhubung keinginan untuk menulis review album REFLECTION belum muncul (padahal ini album bagus swekali sumpil ra ngapusi), maka mari kita bahas sedikit tentang lagu mereka. Mr. Children ternyata mengambil materi yang luas untuk dijadikan lagu. Tentang psikologis, misalnya theme of [Es] dan hypnosis. Tentang teori mimpi di REM. Kayaknya Sakurai suka hal-hal yang berhubungan dengan otak manusia ya…. Haha. Kali ini kita bahas sedikit Theme of Es!

Theme of [Es] ini salah satu lagu favoritku. Terasa simple & basic. So humanic. Lagu yang akan kudengarkan ketika merasa…lelah?  Kekuatan lagu ini berasal dari ke-basic-an nya dan liriknya yang terlalu manusiawi. Ternyata oh ternyata, hal tersebut sangat berhubungan dengan tema lagu ini: Es. Es gosrok? Es puter? Es jeruknya 2 mas tambah krupuk 1? Estegenege?

…khilaf. Ups.

Es ternyata adalah bahasa Jerman dari Id. Id adalah bagian dari teori psikologi (nya Freud) yang menyatakan bahwa pikiran manusia itu terdiri dari id, ego, dan superego. Sebenernya aku ga tau secara benar-benar mendalam karena yang kupelajari hanya dasarnya sajaa tapi gapapa. Biar lebih meresapi kucantumin lirik dari utauinu.com:

[es]~ Theme of Es

01.06.20

Artist: Mr. Children

Title: Es~ Theme of Es

Words: Sakurai Kazutoshi

Music: Sakurai Kazutoshi

 

Ah, it’s a journey on foot above a long rail

blown by the wind, as I keep balance

Ah though I can’t find the answer anywhere

it’s alright, just flowing along I’ll progress.

 

if the fear of losing what I have is enough to hold me back,

I don’t need a medal or anything.

 

I’m getting prepared for an age

where no matter what happens nothing surprises me

I want to make contact with joy

[es] makes me run to tomorrow

 

Ah, unable to recognize my own weakness

I cling to love, everytime I hurt someone I think

those who declare, “love is just a fantasy”,

are probably trying to take the easy way out.

 

Everyone lives embracing, naivety, jealousy, and trickery

Even still I like someone, and then I love you

 

Oh what is it to be human?

I get naked wanting to stand before you.

laurels, sucess, standing and reputation

these things mean nothing you see.

 

Surely everyone wants to believe in the self as it exists now,

bidding farewell to bygone days you begin to walk

I’m getting prepared for an age

where no matter what happens nothing surprises me

I want to make contact with joy

makes me run to tomorrow

 

the very being inside me (the id inside me) [es]

 

Translated By: Brian Stewart & Takako Sakuma

 

Translator’s Notes: Es is the [id] referred to in psychology. The very

being of oneself, the center of one’s self and one’s desire. When Sakurai

declares that he wants to be naked and stand before ‘you’, he’s saying

that he wishes to be embraced by ‘you’ without any of the decorations of

society. Not necessarilly physically naked. We translated nani ga okottemo

hen jyanai as “no matter what happens nothing surprises me” but it may be

nothing suprises anyone. An age where eveything is commonplace and no new

ground is ever broken, but where nothing seems out of the ordinary either.

is that tolerance?

Utauinu emang keren. Mereka sukanya menambahkan notes-notes yang sangat berkualitas dan bermanfaat buat para foreign fans yang tak tau apa-apa tentang bahasa Jepang :’) haha.

Back to topic, itu di notes disampaikan sedikit tentang apa itu id: The very being of oneself, the center of one’s self and one’s desire. Yap.

Jadi di teori ini manusia itu pemikirannya dibagi 3: id, ego, superego. Id adalah center of oneself and one’s desire, alias dengan kata gampang, ini adalah pusat dari manusia sebagai makhluk hidup yang ingin survive, yang butuh kebutuhan dasar, yang punya hawa nafsu. Id adalah keinginan untuk, misalnya, makan, minum, istirahat, pingin berhubungan intim, merusak, membenci, memiliki. Pokoknya hal apapun yang bisa ia lakukan untuk survive/memenuhi hawa nafsunya, entah itu baik ataupun buruk. Superego adalah kebalikan dari Id, yaitu bagian dari manusia yang bermoral. Seperti segala sesuatu terkait moral-moral yang diajarkan orangtua ataupun agama ataupun dari aturan dalam masyarakat, suatu highest standart di orang tersebut. Misalnya : tidak mencuri karena mencuri itu dilarang, tidak memukul karena memukul itu menyakiti orang lain, tidak membunuh karena membunuh itu dosa atau kejahatan. Nah, sedangkan Ego adalah jembatan antara Id dan superego. Ego ini adalah yang terlihat/muncul di perlakuan kita sehari-hari. Misalnya lagi laper banget nih tapi ga punya uang. Eh di depan ruang kuliah ada kantin kejujuran mendisplay Risol Mayo. Id nya akan berkata, ambil aja, kamu laper, kalo kamu ga ambil kamu mungkin bisa mati (yo ra mati sih…). Superego akan bilang, hei kamu ga boleh begitu, itu namanya mencuri, mencuri itu dilarang. Nah si ego akan menjembatani hasrat dari id dan superego ini agar nantinya tindakan yang dihasilkan tidak memunculkan guilt/rasa bersalah dari superego (highest standard) tapi juga bisa memenuhi id. Kalau berhasil dengan baik, maka Ego akan menjadikan aku ngutang temen untuk beli Risol Mayo. Kesemua aspek ini terus-menerus berinteraksi dalam menentukan tindakan apa yang akan kita ambil dalam setiap harinya. Tapi kadang tidak semulus yang aku contohkan tadi. Kalau ego tidak berhasil memenuhi keinginan dua belah pihak, maka akan muncul guilt. Bila defense mechanism atau coping mechanism dari seseorang itu tidak baik/tidak mampu mengatasi guilt, maka bisa muncul gangguan mental (bisa minor atau major).

Nah itu tadi sekilas teori tentang psikologi. Let’s talk about the lyrics. Di sini Sakurai terdengar seperti seseorang yang mencari sesuatu (jati diri munngkin?), dalam masa discovery. “Everyone lives embracing, naivety, jealousy, and trickery. Even still I like someone, and then I love you. Oh what is it to be human?” Manusia punya kenaifan, dengki, tipu-tipu, tapi tetap saja manusia bisa saling mencintai walaupun saling punya kebobrokan. Maka muncullah pertanyaan, what is it to be human? Apakah sifat-sifat itu yang menentukan apa itu manusia, ataukah kesuksesan, reputasi? Sakurai juga dalam masa pertanyaan, mengapa orang yang mencinta juga bisa melukai? Apakah kalau orang melukai itu berarti sebenarnya tidak pernah mencintai? @@ Mumet? Hahahaha

Untuk memahaminya Sakurai ingin telanjang (naked) dan stand before you. Maksudnya tidak ada dekorasi dari lingkungan, tidak ada reputasi or such, dan saling memahami satu sama lain tanpa embel-embel. Di akhir, dia sepertiny menemukan bahwa tiap-tiap manusia punya yang namanya es (the very being inside), yang bisa mendorong seseorang untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Inti dari manusia.  Manusia itu memang bisa mencintai dan bisa melukai, manusia butuh id untuk mencapai hawa nafsunya, misalnya reputasi dan kesuksesan. Manusia punya keinginan dasar dan moral yang bisa menyetopnya.” I’m getting prepared for an age where no matter what happens nothing surprises me”, aku mengartikannya sebagai, Sakurai suatu hari akan sampai di suatu masa dimana superego itu menjadi tidak lagi bermakna, atau maknanya jadi rendah. Sehingga antara id dan superego perbedaannya tidak jauh. Dan Sakurai seperti sudah siap kalau itu terjadi, yaitu saat-saat di mana seluruh manusia jadi rusak, dan yang rusak tersebut menjadi biasa saja di mata lingkungan.

Hahahaha. Jadi, intinya, lagu ini mernurutku adalah lagu pencarian jati diri. Mencari tahu apa itu manusia, siapa itu dirinya, mengapa manusia seperti ini. So humanic bukan? 🙂

CMIIW kalo ada yang salah tentang teori psikologinya 🙂

Advertisements